catatan kecil dari workshop di Semarang

Setelah 5 kali kegiatan workshop batik yg dimotori FDGI selalu digelar di Jakarta, akhirnya event yg ke-6 digelar di luar Jakarta. Tepatnya di Semarang. Unika Soegijapranata berkenan menjadi tuan rumah penyelenggaraan workshop batik yg bertajuk “GRATIK, WORKSHOP GRAFIS BATIK : DO IT YOURSELF, EXPLORE YOUR OWN CREATIVITY!”.
Saya pribadi cukup takjub mengamati kegairahan dari para peserta untuk mengenal “bagaimana membatik…”. Kegairahan yang entah akan sampai kapan digenggam oleh masing-masing peserta untuk ditindak-lanjuti. Apakah berhenti setelah workshop usai, ataukah akan terus berlanjut di kemudian hari.
Tetapi, apapun yang akan mereka (para peserta) kerjakan dan bagaimanapun mereka mensikapi batik setelah mengikuti workshop batik, saya tetap memberi apresiasi yang tinggi kepada mereka; para penggerak, panitia kegiatan, peserta dan orang-orang yang telibat di dalamnya.
Satu pintu alternatif untuk melestarikan batik telah terbuka, tinggal bagaimana kita semua, yang peduli dengan batik, melangkahkan kaki lebih dalam untuk membuat batik tetap lestari.
salam

Workshop “dadakan” adik-adik SD desa sebelah

Jumat siang, sebelum waktu sholat Jumat, studio WATUGORA kedatangan beberapa adik-adik kelas 5 SD. Kedatangan mereka bermaksud mengerjakan salah satu tugas dari sekolah, yaitu wawancara. Mungkin ini salah satu kiat sekolah dasar untuk mempersiapkan generasi ini menjadi pencari warta yang handal. Atau mungkin juga, sekolah itu menugaskan murid-muridnya karena kurang kerjaan. Aku nggak mau terpikir-lama soal tugas-tugas sekolah mereka. Karena aku cuma ingin memaparkan peristiwa setelah mereka menunaikan tugas wawancara dengan para kru studio WATUGORA.
Waktu itu, setelah adik-adik itu selesai dengan tugas wawancara mereka, kami menawarkan secara iseng saja kepada mereka, apakah mereka pengen belajar membatik? Ternyata mereka cukup antusias menyambut tawaran untuk belajar membatik. Kemauan mereka sepertinya lebih pada dorongan dari sifat keingintahuan. Jadi mungkin saja bukan untuk menjadi pembatik handal…
Dengan semangat dan keceriaan khas anak-anak, mereka mulai menggambar di lembaran kain sebesar saputangan, yang kami bagikan untuk mereka. Di tengah kegiatan kerja di studio WATUGORA, kami bergantian memberikan pembelajaran, apalagi ketika mereka mulai membatik. Bagaimana cara memegang canting dan mencoretkannya pada kain.
Menjelang sore, adik-adik tadi telah menyelesaikan karya batik “dadakan” mereka. Yang keseluruhan prosesnya hampir mereka kerjakan sendiri.
Kegiatan ini berlanjut ke hari-hari berikutnya. Pada Jumat siang, pembelajaran dimulai dengan 3 anak. Di hari berikutnya, Sabtu siang, mereka membawa serta beberapa temannya untuk ikut pembelajaran membatik. Dan, hari Senin, kegiatan ini masih terus berlanjut dengan adanya teman-teman baru dari adik-adik ini. Antusiasme adik-adik ini cukup mengejutkan kami. Dari ternyata hasilnya cukup lumayan untuk pembelajaran yang kami berikan secara kilat dan itupun sembari kami mengerjakan pekerjaan WATUGORA.

Ini hanya sekedar catatan dari beberapa “workshop dadakan” yang begitu saja, tiba-tiba (harus) diadakan di sela-sela aktivitas rutin di studio WATUGORA. Memang kadang ada beberapa orang datang, dan ingin belajar membatik. Bahkan beberapa kali kami diundang sekelompok mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) dari beberapa kampus di Jogja (mata kuliah ini hanya ada di Jogja kah?) untuk memberikan pembelajaran membatik di antara program-program kemasyarakatan mereka. Dengan senang hati kami memenuhi undangan itu.
Buat kami (kru WATUGORA) kegiatan “dadakan” seperti di atas, cukup mampu mengusir kepenatan pekerjaan (refreshing). Senang rasanya bila kami bisa berbagi sedikit kemampuan kami dengan teman-teman… dan bisa memberi keriaan dan kegembiraan untuk beberapa orang.

sori..sori..sori

maaf sekali kalo blog ini jarang banget di-update… karena keasyikan update di facebook

Pencarian yang akan terus berjalan entah sampai kapan…

Sekian tahun yang lalu, mungkin 8 tahun terlewati, aku mulai meraih kain dan mencoretinya dengan lilin-malam. Mencoba materi demi materi dari beragam bahan kain. Mencoba mencari bentuk-bentuk tertampil daripadanya. Berulang kekecewaan memenuhi setiap detik-detik akhir penyelesaian torehan lilin-malam. Kekecewaan itu bertambah ketika aku mulai meresapkan warna ke dalam serat-serat pintalan benang yang tersusun rapi menjadi selembar kain. Warna yang kurengkuh-paksa dari setiap lembar-lembar daun dan serpihan-serpihan kayu itu tak selalu tunduk pada kemauanku. Setiap kali merebus onggokan daun ataupun serpihan kayu itu, aku selalu mendapatkan pewarna yang serupa tapi tak selalu sama. Sepertinya cairan itu bertindak sekehendak hatinya, tanpa bertanya kepadaku tentang apa yang kumaui.

Ketakberhasilan (begitu aku menyebut keadaan gagal itu) selalu aku coba perbaiki dengan metode yang baru. Tetapi setiap kali, ketidaksesuaian selalu menghantui setiap kupandangi detik-detik akhir penyelesaian lembaran karya. Ada sebentuk entah apa yang tertinggal, tetapi ada juga berbagai nuansa yang muncul entah bagaimana…

Akhirnya kusadari, bahwa setiap kegagalan memiliki keberhasilannya tersendiri. Aku memulai lagi dengan menelusur kembali metode yang telah kutinggalkan. Mengumpulkan kembali hal-hal yang benar satu demi satu. Dan akhirnya, aku sampai pada pencapaianku..

Tanpa sadar, banyak hal telah aku lewati. Waktu, ruang, materi, berkas-berkas pencarian ternyata telah menorehkan jejaknya dalam sertiap lembar karyaku. Baik yang gagal maupun yang berhasil. Gagal karena memang tak sesuai dengan keinginanku, demikian juga dengan yang berhasil. Selalu dalam kerangka pandangku, bukan dari titik mata orang lain.

Berhasilkah?

Entahlah, yang pasti aku terus berjalan. Menapak terus rutinitas, berseling dengan keisengan sebagai perilaku pencarianku. Sebentuk keisengan yang kadang memunculkan satu rona dan nuansa baru. Bukan selalu bentuk yang berhasil, dan juga bukan sebuah kepastian atas kegagalan.

Euforia batik, bukan euphoria para pelaku

Hari ini dimana-mana kulihat batik. Dalam mimpi, di pinggir jalan, di tengah kota, di mall, di kampus dan sekolah. Di perhelatan pesta pernikahan, di acara-acara ini-itu yang sifatnya semi-formal. Bahkan di ujung lorong gang sempit di antara gedung-gedung tinggi. Dalam berita, sesosok mayat ditemukan sedang mengenakan batik.

Jejak-jejak kakiku melangkah mengiringi otakku yang berputar teramat cepat. Teringat lemaran-lembaran batikku yang masih tergantung menanti untuk diselesaikan. Terbayang hari-hari panjang es teh dan nasi-sayur-tahu melulu dari hari ke hari. Masih beruntung bila kudapati ada telor dadar atau ceplok di atasnya.

Gema keriuhan batik memenuhi ruang media massa. Juga memenuhi otakku yang penat dengan rancangan motif batik yang tak kunjung selesai dikerjakan. Dalam gemerlap acara talk-show, para pakar berbicara tentang prospek dan proyek batik. Di pojok yang lain pembawa acara sedang dibungkus kain batik. Para penggembira bahkan membungkus dirinya dengan batik serapat mungkin. Mereka pun berceloteh hingga air liurnya mempola motif batik. Cat kukunya pun membayang motif-motif batik klasik. Kacamata mereka mencitra batik pesisiran.

Langkahku terhenti di depan sebuah rumah yang di terasnya ada dua gadis yang sedang membatik. Kuamati mereka. Tidak ada selembar batik pun menutup di tubuhnya. Seluruh rumah dan halamannya.tak satupun terlampir selembar kain batik, kecuali kain yang sedang mereka kerjakan. Tak ada gemerlap ceria di sini, yang ada hanya kesederhanaan yang lebih cenderung kurang mampu secara ekonomi. Di sudut halaman, seorang ibu yang menggendong bayi sedang menutup pintu pagar, berjalan memasuki halaman. Ditangannya menenteng lembaran batik, yang lagi-lagi belum selesai dikerjakan. Sesuatu yang menunjukkan kain itu bukan miliknya. Memang mereka adalah pekerja borongan dari pabrik batik di sebelah desa.

Aku berjalan lagi. Masih menggemuruh kelebatan kain batik di atas panggung peragaan dengan kilatan cahaya warna-warni mempesona.

Uaaahh… berapa lama lagi kuraih uangku kembali.

Quo vadis wastra batik di ranah penciptaan dan mode??

di ranah penciptaan

Suatu penciptaan pastilah berangkat dari data dan juga pengertian-pemahaman terhadap akar permasalahannya, atau paradigma-dialektika subyeknya. Biasanya, dimulai dengan menelusuri literatur-literatur yang berhubungan dengan tema masalahnya. Kemudian dari proses tersebut akan diperoleh konsep dasar dari penciptaan..

Mencari literatur tentang batik ternyata seperti mencari jarum di antara tebaran pasir di halaman. Dan usaha menemukan naskah-naskah penciptaan dan filosofi tentang batik seperti mengais lumut di padang gurun. Ada, tetapi hampir mustahil ditemukan.

Tanpa literatur yang baik dan lengkap, pastilah batik akan kesulitan menemukan jatidirinya di belantara budaya pop-kontemporer. Dan tanpa penelusuran pada filosofi dan pemahaman terhadap konsep penciptaan sebentuk wastra, tentu tak akan didapatkan literatur yang baik dan lengkap tadi. Dan akhirnya, tanpa itu semua, proses penciptaan sebentuk wastra akan gamang menentukan arahnya.

Menurut saya, tanpa penelitian dan penelusuran atas terciptanya batik dan tentu tanpa literatur yang baik dan lengkap, penggalian dan pengembangan sebentuk wastra menuju pada paradigma baru wastra batik hanya menghasilkan ikon dari masa lalu yang gagap menyatu dengan paradigma pop-kontemporer dari keseluruhan perkembangan wastra modern.

Dengan mengenali proses dan filosofi penciptaan sebentuk wastra, akan dapat dipahami mengapa dan bagaimana wastra itu tercipta. Seperti misalnya, paparan filosofis apa yang tersirat dari motif-warna dalam sebentuk wastra (kain, sarung, ikat kepala, ikat pinggang dsb). Pola budaya yang seperti apa yang ingin diungkapkan dalam motif-motif sebentuk wastra. Hingga, untuk keperluan apa wastra dengan motif tertentu itu dibuat.

Seperti diketahui, awal terciptanya sebentuk wastra bagi komunitas tradisional adalah faktor kebutuhan yang lebih dari sekedar kebutuhan akan pakaian. Seperti misalnya, kebutuhan akan alat upacara adat, penanda status sosial, penanda kelompok adat, dokumentasi tradisi dan sebagainya. Kita tahu bahwa songket, batik, tenun ikat dan wastra adat lainnya, mengandung arti tertentu bagi komunitas adat pembuatnya.

Literatur dan wacana konseptual batik di ruang publik masih sulit ditemukan keberadaannya. Para penggiat batik masih belum melakukan wacana yang komprehensif dan berbicara lantang di luar komunitasnya. Kalangan akademis masih enggan mewacanakan batik dalam diskursus-diskursus ilmiah mereka. Ruang publik belum membuka peluang yang cukup bagi penggiat batik yang mengusung alternatif baru untuk tampil. Hal ini kontras dengan isu geliat batik (dan juga wastra tradisional) yang gegap gempita namun gagap menyikapi dirinya. Tidak seperti sepupu jauhnya seni rupa ataupun seni musik. Seni wastra (dalam hal ini batik, yang sedang marak atau nge-trend) masih menyandang paradigma lamanya, yaitu wacana tradisi, dalam setiap penampakannya.

Masihkah sekian tahun mendatang wastra tradisional yang sekarang sedang menyita banyak perhatian di ruang publik ini bertahan dalam arus pop-kontemporer yang lalu lalang kesana-kemari?

Atau… gegap gempita akan wastra tradisional yang hadir ini hanya merupakan alternatif keluar dari kebosanan atas hasil budaya wastra pop-kontemporer yang suatu hari hilang ditelan bumi?

di ranah mode

Tidak sedikit desainer mencoba mengangkat batik sebagai salah satu alternatif tema pilihan dari aktivitas kreatifnya. Usaha pencarian dan penemuan kembali wastra batik dan mempertemukannya dengan wacana kontemporer, menjadi salah satu isu yang cukup ramai menghiasi panggung peragaan busana pop-modern. Setidaknya, dalam periode satu dasawarsa terakhir.

Tetapi bila dicermati, hampir semua usaha menggunakan batik sebagai idiom dalam busana pop dan/atau kontemporer terkesan hanya penyertaan wastra batik atau sebagai (bahasa kasarnya) tempelan motif estetik saja. Penciptaan batik dalam konsep perancangan masih merupakan ikon aplikatif dari keseluruhan karyanya, sehingga terasa tidak menyentuh esensi dan tetap saja terasa asing berada diantara gemerlap karya busana itu sendiri. Batik seolah tidak menyatu sebagai satu kesatuan utuh dengan busana itu sendiri.

Entah saya yang salah melihat, atau memang demikian adanya… Atau saya yang kurang memahami detail proses penciptaan berikut idiom-idiom dari sebentuk wastra-busana modern…

Dalam penampakan (representasi) aplikasi dari wastra batik, struktur baku atau pakem dari sebentuk wastra terkesan tidak boleh dihilangkan dalam penampakan motif-motif tersebut. Mungkin beban kultural wastra batik terlalu berat hingga tidak bisa lepas dari keberadaan asali dirinya. Idiom-idiom motif batik seolah erat mengikat dan terlalu lekat untuk untuk dilepaskan

Tetapi batik yang hadir di tengah budaya pop-kontemporer, secara tidak disadari telah memperkosa makna-filosofis dan struktur dari wastra batik itu sendiri. Penempatan motif batik-tradisional dalam sebentuk wastra modern justru seringkali mengabaikan dan menafikan aturan baku dan makna-filosofis-simbolis.

Ada tanda-tanda pemuliaan yang kaku dan berlebihan pada motif batik. Seperti motif Parang, Kawung, Ceplok, Truntum, Semen dan sebagainya. Demikian juga yang terjadi dengan pengelompokan yang kaku menurut wilayah penciptaan motif batik. Seperti batik Pesisiran, batik Jogja&Solo, batik Cirebon, batik Lasem, batik Hokokai…

Klasifikasi dan pemuliaan yang ketat dan kaku, dan juga berlebihan terhadap struktur-baku, memang telah terbukti dapat melestarikan rupa-asali motif batik itu sendiri. Terbukti motif Parang, Kawung, Truntum, Semen dan sebagainya; bahkan pola-utuh seperti Sidomukti, Lung-lungan, Tambal, Jlamprang dan sebagainya masih mampu hadir dan diminati hingga sekarang…

Tetapi hal tersebut juga membuktikan, bahwa aturan dan pemuliaan yang kaku tersebut tidak berhasil membuka ruang bagi proses penciptaan baru sebentuk wastra. Penciptaan yang lebih mendasar, pembaruan yang menyentuh pada struktur-baku dari motif-motif dan bahkan wastra batik itu sendiri.

Memang ada beberapa perupa-batik yang mencoba mengerjakan paradigma baru. Membuka wacana baru terhadap motif batik, struktur-baku dari wastra batik, makna-filosofi batik itu sendiri. Tetapi penampakannya hingga kini tidak terasa hadir di wilayah publik. Ada tetapi sekaligus seperti tidak ada. Entah karena perupa-batik itu sendiri yang tidak suka dihadirkan atau memang media publik yang luput menanggapi

Pemahaman yang tidak tepat atas makna-filosofis dan struktur-baku penciptaan dari motif-motif batik tentulah memudahkan kita, penggiat batik dan wastra tradisional, secara tidak sadar, terjerumus dalam perkosaan dan penganiayaan

Quo vadis wastra batik di ranah modern??

Kontras dengan masa lalunya yang gemilang sebagai ikon “budaya dan busana”, kini wastra batik batik hanya mampu menyandang ikon sebagai “busana tradisional” dan/atau “baju kondangan” dan/atau “busana pada acara seremonial semi formal”.

Kehadiran wastra tradisional nusantara belakangan ini semakin meramaikan dunia mode di Indonesia. Tetapi secara mendasar, benarkah wastra tradisional telah benar-benar hadir dan eksis, dan menjadi salah satu ikon penciptaan busana? Sepertinya “belum sepenuhnya” (dengan huruf besar).

Wastra batik ternyata (secara esensial) telah terrenggut dari ranah lahirnya, seperti juga wastra serat (tapestri) nusantara yang lain seperti lurik, jumputan, songket, tenun ikat, sulaman dan anyaman. Sosoknya masih tetap terlihat, namun terus terkungkung dalam buaian paradigma lama. Dalam romantika kesejarahan yang masif dan mati.

Ketika isu “back to nature” marak di ranah mode modern (dunia Barat??), mereka menunjukkan ketertarikannya pada wastra-wastra tradisional, termasuk wastra batik. Dan, kita pun dengan bersemangat menyambut dengan gembira dan gegap gempita. Tiba-tiba, batik bangkit menjadi sebentuk trend baru dalam geliat budaya pop dan kontemporer.

Namun, tiba-tiba kita gagap dengan keberadaan wastra tradisional itu sendiri. Tiba-tiba juga kita gamang menempatkan segala tapestri itu dalam ranah hidup berbudaya kita. Dan tertegun ketika kita bersinggungan dengan ranah penciptaan sebentuk wastra.

Batik yang hadir dengan paradigma lamanya, terasa asing di tengah lalu lalang kaos oblong, jins, hem-dasi, dan jas. Batik terlihat lugu dan kaku ditengah budaya mode yang praktis dan dinamis. Dengan kata lain, wastra batik masih terlihat (maaf) “kampungan” dan old-fashioned ditengah jajaran adibusana modern dan paradigma distro.

Di ranah modern ini, dengan budaya pop sebagai ritmen-nya, batik hanyalah bayangan yang hadir dari masa lalu tanpa mampu (secara esensial dan utuh) mengejawantah dan menyentuh dialektika busana kontemporer. Terlalu sporadis wastra batik dikenakan dalam keseluruhan ruang dan waktu sekarang ini.

SEKALI LAGI, BATIK (SEPERTI JUGA HASIL BUDAYA LAIN) MEMANG MEMILIKI IKATAN YANG KUAT DENGAN PARADIGMANYA, YAITU BUDAYA DAN KESEJARAHANNYA.

TETAPI, BATIK JUGA ADALAH RANAH KREASI YANG TERBUKA, YANG BEBAS BERKELANA. TIDAK KAKU DAN TIDAK JUGA TINGGAL DALAM DEKAPAN ATURAN-ATURAN BAKU.

BATIK, HINGGA KINI MEMANG MASIH TERSELIMUTI BAYANG MASA LALU. SELALU MENJADI YANG TRADISIONAL DAN old-fashioned. NAMUN SEMUA ITU SEBENARNYA ADALAH PERSEPSI KITA YANG SALAH ARAH ATAU KURANG BENAR.

Wastra batik, ikon budaya pada masanya

Konon pada masa kerajaan Mataram, wastra batik menjadi ikon penanda kelas sosial dalam masyarakat Jawa. Khususnya Jogja dan Solo. Selain itu wastra batik adalah salah satu perangkat penting dalam upacara budaya. Sehingga wastra batik mempunyai peran penting dan populer kala itu dalam masyarakat.

Wastra batik memang pernah menjadi busana paling populer sekaligus superior pada waktu itu. Terbukti dari ragam motif tertentu yang hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu ataupun hanya diperuntukkan pada upacara tertentu. Aturan dan larangan yang ketat dalam pemakaiannya, yang dikeluarkan oleh pihak penguasa pada waktu itu.

“…Certain, for instance, were larangan reserved for his usage only…A strict dress protocol, including colors and acceptable patterns, was integral part of the court scene. An indivudual’s position often was stated in the batik patterns he or she wore.

…The governig classes were atribute with certain magical powers that were often expressed in special designs…

…the aristocracy soon created forbidden pattern or pola larangan.”(Iwan Tirta, BATIK – A Play of Light and Shades)

“… Pola yang hanya boleh dikenakan oleh raja dan keluarga istana ini disebut “pola larangan” (H. Santoda Doellah, Batik – Pengaruh Zaman dan Lingkungan)

Motif-motif tertentu pun sangat dilarang dan disakralkan, dan tidak sembarang orang bisa mengenakan.

“… Semua pola parang, terutama Parang-rusak Barong (gb.47), Cemungkiran (gb. 48), dan Udan Liris (gb. 49), serta berbagai semen yang menggunakan sawat ageng merupakan pola larangan kraton Surakarta. Adapun pola larangan kraton Yogyakarta antara lain berupa pola parang besar, terutama Parang-rusak Barong (gb. 47), Semen Ageng (gb. 82), dan Sawat Gurdha (gb. 50)” (ibid. H Santosa Doellah)

Wastra batik sebagai ikon pop culture kerajaan Mataram

“Zaman berubah, musim berganti. Seiring dengan perubahan zaman, pihak kraton pun memperlonggar kebijakan mengenai pola larangan… Pola larangan – menjadi batik yang dapat dipergunakan oleh masyarakat umum.” (ibid. H Santosa Doellah)

“Though this exclusivity started as a custom, later decrees officially prohibited the use of certain patterns by the masses” (ibid. Iwan Tirta)

Sejak memudarnya dominasi kebijakan kerajaan, batik mulai digunakan oleh orang kebanyakan (awam). Seperti dituturkan H. Santosa Doellah,

“Pembatikan di luar istana mula-mula hanya dalam bentuk kegiatan rumah tangga yang dikelola oleh para kerabat dan abdi dalem yang tinggal di luar kraton. Ketika kebutuhan batik meningkat pesat, usaha rumah tangga para kerabat dan abdi dalem berkembang menjadi industri yang dikelola oleh para saudagar.

…, mendorong masyarakat di luar kraton yang tadinya memakai kain tenun ingin pula mengenakan batik.” (ibid. H Santosa Doellah)

Akan menjadi masuk akal bila dikatakan, inilah tonggak awal industrialisasi batik terbangun. Yang dikuatkan oleh pendapat Iwan Tirta,

“One of the few reports on workers in the batik industry was prepared by De Kat Angelino in 1930. He describes the hundreds, even thousands, of pengobeng, or women batikkers who travel from town to town in the coastal plain to earn their living by hiring their skills out to batik enterpreneur”

Tetapi dengan adanya kebijakan pola larangan, banyak motif yang direkonstruksi bahkan didekonstruksi sehingga muncullah wastra batik modern yang digunakan oleh para awam.

Wastra batik tinggal di pinggiran ranah mode modern

Hingga kini wastra batik hanya mampu menyandang ikon sebagai “baju kondangan” atau busana pada acara seremonial semi formal. Padahal telah cukup banyak peragaan busana dan pameran mode yang mengangkat wastra batik sebagai tema, bahkan tema utama. Juga cukup sering lomba rancang batik diselenggarakan. Tetapi, pada kenyataannya wastra batik belum mampu menjadi busana populer, bahkan kontemporer.

Banyak desainer mencoba membawa batik ke ranah pop, dunia mode. Tetapi hampir semua usaha menggunakan batik sebagai idiom dalam busana pop dan/atau kontemporer terkesan hanya penyertaan wastra batik atau batik sebagai tempelan motif estetik saja. Batik tetap saja terasa berdiri asing diantara gemerlap karya busana itu sendiri. Batik seolah tidak menyatu sebagai satu kesatuan utuh dengan busana itu sendiri.

Dengan kata lain, batik belum menjadi pencarian yang mendasar (esensial) bagi banyak perancang mode. Walaupun tak dipungkiri tetap ada perancang yang menghasilkan wastra batik yang populer dan kontemporer.

Atau, mungkinkah (maaf sekali) karena para desainer memang tidak memahami dengan baik esensi (jiwa dan karakter yang mendasar) dari wastra batik itu sendiri??

Atau mungkin sulitnya mencari literatur yang baik dan lengkap tentang wastra batik turut memberi kontribusi hadirnya paradigma tersebut diatas??

TIDAK BERMAKSUD MENGABAIKAN DAN/ATAU MENGECILKAN KONTRIBUSII ATAS APA YANG TELAH DIKERJAKAN OLEH PARA DESAINER TERHADAP WASTRA BATIK. TIDAK JUGA MELUPAKAN APA YANG TELAH DIPERBUAT PARA SAUDAGAR BATIK.

SEPERTINYA TIDAK BERLEBIHAN BILA BERHARAP WASTRA BATIK AKAN KEMBALI MENJADI IKON BUSANA DALAM BUDAYA POP (POP CULTURE).

KEGAIRAHAN INDUSTRI BATIK (DAN KERAJINAN LAINNYA) AKAN MAMPU MEMBERDAYAKAN BANYAK SEKALI ORANG. KARENA INDUSTRI INI MAMPU MENCIPTAKAN PELUANG KERJA YANG TAK TERBAYANGKAN JUMLAHNYA.

SELAMAT MENGGUNAKAN BATIK DAN SELAMAT MENINGGALKAN DAN MENANGGALKAN JAS ANDA !!!

BATIK – sebentuk karya seni yang terpinggirkan

Apa yang terlintas dalam pikiran ketika kita mendengar kata “batik”??

Batik” dalam anggapan umum adalah “sebentuk kain yang memiliki motif-motif tertentu”. Yang mana motif-motif tersebut telah digunakan beratus tahun (mentradisi) pada sebuah wastra (kain yang bermotif). Misalnya, motif parang, motif kawung, motif pesisiran, dan sebagainya.

Pengertian seperti di atas telah menjadi semacam aksioma bahwa batik atau wastra batik adalah motif itu sendiri. Sehingga muncul penyebutan “batik Parang”, “batik Kawung”, “batik Mega Mendung” dan sebagainya. Juga seringkali dikenal dalam penggolongan seperti batik Jogja, batik Solo, batik Pesisiran dan sebagainya

Lalu, apakah “batik” itu sendiri??

Batik” menurut sejarah katanya (atau leksikal?) berasal dari kata “tik” yang berarti menorehkan titik-titik (pada sebentuk kain). Mengacu pada pengertian tersebut, kata “batik” menunjuk pada aktivitas menoreh lilin malam (wax) pada sebentuk kain itu sendiri.

Dengan demikian pola apapun yang terterakan pada kain, selama melalui proses “batik” atau menorehkan lilin-malam pada kain, maka wastra tersebut dapat disebut “kain/wastra batik”.

Benarkah wastra batik telah melalui kesejarahan yang panjang??

Batik, pada mulanya, tidak seperti yang kita kenal sekarang. Sebentuk wastra batik memiliki kesejarahan dan tradisi yang cukup lama dan juga seperti produk budaya pada umumnya, dialektis.

“One types of early dye-resist is the kain simbut fabric that uses a rice-paste resist… from Banten in West Java and dating to the 19th century… Related to the kain simbut are the early ma’a cloths from Toraja in South Sulawesi… This technique was later refined by using wax applied with bamboo pen. The ma’a cloth is of particular interest in efforts to document the origins of batik… This early technique was developed in an isolated mountain area and had little influence from Indian culture. This suggests that the origin of batik in Indonesia were not from outside the archipelago, as some scholars theorize” (Iwan Tirta, BATIK – A Play of Light and Shades).

Dari kutipan paragraf di atas, setidaknya dapat diketahui bahwa wastra batik memang mempunyai kesejarahannya sendiri. Dan merupakan sebuah hasil budaya asli Nusantara.

Penggunaan pena bambu tentulah memiliki kendala dalam membentuk motif-motif yang rumit (seperti motif yang terdapat pada batik abad XIX). Tetapi tidak diketahui dengan pasti, kapan para pembatik mulai menggunakan “canthing”, yaitu alat yang digunakan untuk menoreh lilin (wax) pada kain.

Dalam masa keemasan kesejarahannya, wastra batik sempat menjadi kain yang sangat eksklusif, karena wastra tersebut hanya diperuntukkan bagi kalangan keluarga kerajaan. Atau hanya dipergunakan pada upacara-upacara tertentu. Bahkan, konon, wastra batik memiliki cerita-cerita mistis dan menakjubkan yang mengikuti motif-motif sakral yang tercipta.

Lambat laun wastra batik menjadi pakaian resmi kalangan elit kerajaan. Kemudian menjadi pakaian resmi perangkat kerajaan. Akhirnya, wastra batik menjadi ikon kelas sosial tertentu pada masa itu.

Wastra batik, beserta motifnya telah menorehkan jejak semiotika yang panjang, rumit sekaligus mengagumkan. Setiap motif batik memiliki kandungan semiotika sendiri-sendiri. Dan konon, setiap motif harus dibuat dan digunakan secara benar. Bahkan hingga menyentuh sisi holistik pemakainya.

Perdagangan antar suku dan bangsa di penjuru Nusantara, ikut andil dalam perkembangan wastra batik. Terbukti dari munculnya “batik Belanda”, “batik tiga Negeri”,”batik Cina”, “batik Kampung Arab” dan lainnya.

Perkembangan tersebut, mau tidak mau ikut mempengaruhi pergeseran wastra batik yang pernah di-“sakral”-kan sebagai ikon tertentu menjadi lebih egaliter. Menanggalkan hampir seluruh kandungan semiotika-nya.

Sekarang, wastra batik telah menjadi pakaian umum yang dapat dipakai oleh siapa saja dan dimana saja. Walaupun masih ada kelompok-kelompok masyarakat yang menggunakan wastra batik menurut kandungan semiotika dari motif batik.

Benarkah ada genre dalam khazanah wastra batik??

Pada awalnya, proses pembuatan wastra batik seluruhnya dikerjakan dengan tangan (manual), dengan pewarnaan menggunakan bahan-bahan organik tumbuhan. Inilah yang dikenal dengan genre “batik tulis”.

Namun, dengan (mungkin) meningkatnya permintaan dan pertimbangan efisiensi, akhirnya muncullah metode “cap”(stamp), yaitu membatik dengan menggunakan alat stempel bermotif tertentu yang dibuat dari kuningan/tembaga. Juga tidak diketahui dengan pasti kapan munculnya metode ini. Tetapi, yang pasti era ini memunculkan genre baru dalam sejarah batik. Dikenal dengan “batik cap”.

Pewarna sintetis pun ikut andil dalam perkembangan wastra batik. Dengan bahan tersebut, proses pewarnaan pun menjadi lebih sederhana – baik pembuatan celupan (dye-bath) maupun proses pencelupan (dyeing) – bila dibandingkan dengan pewarnaan organik tumbuhan. Era ini, ditandai dengan diperkenalkannya pewarna sintetis oleh orang-orang Eropa. Dan memunculkan genre “batik sintetis

Dalam beberapa dekade terakhir, ada genre baru bagi wastra batik. Yaitu munculnya wastra batik yang diproduksi menggunakan tehnik sablon (screen printing) maupun menggunakan mesin cetak industri (printing machine). Wastra genre ini dikenal dengan “batik pabrikan” atau batik printing/sablon”.

Dewasa ini, ada penggabungan atau persilangan baik tehnik batik atau pewarnaannya. Maksudnya, ada batik tulis yang diwarnai dengan sintetis, atau batik cap yang kemudian ditoreh dengan tehnik batik tulis (biar terkesan batik tulis) dan menggunakan pewarna tumbuhan dan/atau sebaliknya.

TETAPI SEMUA TEHNIK YANG BERKEMBANG SEPERTI TERSEBUT DI ATAS, APAPUN NILAINYA, TELAH MEMBERIKAN TOREHAN YANG PENTING BAGI KESEJARAHAN SEBENTUK WASTRA BATIK.

SELAMAT MENGGUNAKAN BATIK DAN SELAMAT MENINGGALKAN DAN MENANGGALKAN JAS ANDA !!!

WATUGORAatelier

Selamat gini hari, semua…

Ini saya pengen coba-coba nge-blog

Hueeeheheheeheeee…


Flickr Photos

TRI proyek2

LUPUZ&TRI proyek1

GEDAXXX proyek1

numpang mejeng

More Photos

RSS celoteh-celoteh kecilku

  • Air beriak… banyak ikannya
    Sore hari tadi, aku melingkari angka 16 di lembaran bulan Mei pada bundel kalender 2009. Mungkin nggak penting buat orang lain, karena hari ini hari sabtu biasa dan bukan hari raya atau hari libur nasional. Juga nggak ada fenomena alam, yang membuat hari itu sebagai hari spesial. Sabtu legi kira-kira jam 2.30 siang itu, menjadi [...]
  • Fenomena kecil yang terlewatkan dari kota Jogja
    Bagi anda yang pernah menjadi “rekreator” (pelaku rekreasi ato wisatawan) ke Jogja, apakah anda pernah menemui sebentuk fenomena unik yang terjadi hampir setiap malam di jalanan Jogja dan sekitarnya? Bila anda merasa belum pernah menemukan fenomena unik itu, kemungkinan anda telah menjadi rekreator yang kurang lengkap di Jogja… Salah satu d […]
  • Pe-nafi-an Yogyakarta sebagai daerah istimewa terasa semakin nyata
    Setelah peristiwa Pisuwunan Agung pada awal bulan ini yang melibatkan banyak rakyat Yogyakarta untuk memperjuangkan keistimewaan Yogyakarta; tadi siang ada “Pisowanan Ageng”, yang juga dihadiri oleh banyak rakyat Yogyakarta. Tetapi bertolak belakang dari peristiwa pertama, peristiwa hari ini adalah pemberian dukungan kepada Sri Sultan untuk maju menjadi capr […]
  • Cerita biasa dari desa dan refleksi kepedulian
    Ketika itu aku sedang duduk di bawah pohon yang agak rindang, di pinggir jalan sawah desa. Kupandangi tiga kerbau di tengah sawah. Terlihat dekil setelah hampir setengah hari berkubang di lubuk lumpur dekat sawah di pojok sana. Mereka terlihat sedang sibuk dengan dirinya sendiri. Berjalan kian kemari memaguti sisa-sisa batang padi yang tertinggal sehabis pan […]
  • Refleksi lagi tentang Kemerdekaan dari bangsa yang bernama Indonesia
    Sekali lagi, apa arti kemerdekaan bagi saya? Dan juga, apa arti kemerdekaan bagi saya dikaitkan dengan hubungan sosial kita sebagai warga masyarakat dan warga negara? Semua akan ditulis dari kacamata (persepsi) saya, karena secara jujur, itulah yang saya mengerti. Saat bulan Agustus menjelang, saya seringkali menyaksikan di media massa mulai dari berita hing […]
  • Refleksi Kebangkitan Nasional dan Kemerdekaan dari seorang desa
    Pada 21 Mei 2008, aku tahu bahwa leluhur kita 100 tahun yang lalu mengikrarkan “kebangkitan bangsa” melawan segala bentuk penjajahan. Dan pada 17 Agustus 2008 nanti, aku tahu bahwa telah 63 tahun bangsa yang bernama Indonesia ini “merdeka”. Ijinkan saya mengawali tulisan ini dengan “heheheheheeee…” Entah kenapa saya selalu merasa geli ketika mendengar kata-k […]

Blog Stats

  • 1,383 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.